Coding dan AI Baru Diajarkan di Sekitar 25 Persen Sekolah, Apa Tantangannya?

Sekelompok pelajar bekerja bersama dalam kegiatan belajar teknologi

Ditulis oleh

dalam kategori

Pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) baru diterapkan di sekitar 25 persen sekolah di Indonesia. Angka ini disampaikan Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia di Bali pada awal Oktober 2026.

Kemendikdasmen membuka kesempatan pembelajaran coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan mulai kelas 5 SD hingga SMA. Penerapannya tidak otomatis seragam karena bergantung pada kesiapan guru, perangkat, konektivitas, dan dukungan pembelajaran.

Apa arti angka 25 persen?

Angka tersebut menunjukkan pembelajaran coding dan AI belum menjangkau sebagian besar sekolah. Karena mata pelajaran ini bersifat pilihan, sekolah yang belum menerapkannya tidak otomatis berarti melanggar ketentuan.

Mengapa coding dan AI penting?

Coding membantu murid memahami urutan instruksi, memecahkan masalah, menguji gagasan, dan memperbaiki kesalahan. Literasi AI membantu murid memahami peluang, keterbatasan, privasi, dan etika teknologi. Tujuannya bukan sekadar membuat semua murid menjadi programmer, melainkan membangun literasi digital dan berpikir kritis.

Tantangan penerapan di sekolah

  • Kompetensi guru dan kebutuhan pelatihan berkelanjutan.
  • Ketersediaan perangkat dan koneksi internet.
  • Kesenjangan kesempatan belajar antarwilayah.
  • Materi yang sesuai usia dan kebutuhan murid.
  • Etika, keamanan data, verifikasi informasi, dan hak cipta.

Bagaimana sekolah dapat memulai?

Sekolah dapat memetakan perangkat dan kemampuan guru, lalu memilih kegiatan sederhana. Konsep algoritma dapat diperkenalkan melalui instruksi berurutan dan permainan logika tanpa komputer. Saat menggunakan AI, guru perlu membimbing murid memeriksa hasil dan tidak memasukkan data pribadi.

FAQ coding dan AI di sekolah

Apakah coding dan AI wajib untuk semua murid?

Informasi yang disampaikan pemerintah menyebut coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan. Sekolah perlu merujuk ketentuan resmi terbaru untuk rincian penerapannya.

Mulai kelas berapa pembelajaran tersedia?

Kemendikdasmen menyebut pembelajaran dapat dimulai dari kelas 5 SD hingga SMA.

Sumber

Catatan redaksi GURUNUSA: persentase mengacu pada pernyataan Mendikdasmen yang diberitakan ANTARA pada 3 Oktober 2026. Cakupan penerapan dapat berubah.

Komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *