Sisa MBG Berpotensi Menambah Sampah Sekolah: Data Nasional dan Solusinya

Sisa pangan dan sampah organik untuk pengelolaan lingkungan yang lebih baik di sekolah

Ditulis oleh

dalam kategori

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendukung pemenuhan gizi peserta didik. Namun, sekolah dan penyelenggara juga perlu memperhatikan makanan yang tidak habis serta sampah dari kegiatan makan. Tanpa pencatatan dan alur penanganan yang jelas, sisa pangan dapat menambah volume sampah organik, menimbulkan bau, mengundang hama, dan menambah pekerjaan petugas kebersihan.

Sisa pangan dan sampah organik untuk pengelolaan lingkungan yang lebih baik di sekolah

Kajian Kementerian PPN/Bappenas bersama GIZ dan Waste4Change memuat estimasi sisa pangan dari penerima manfaat di sekolah sebesar 582.272 ton per tahun pada 2025 dan 1.456.252 ton per tahun mulai 2026 dalam Skenario 2. Angka tersebut merupakan proyeksi, bukan hasil penimbangan aktual seluruh sekolah di Indonesia. Karena itu, pembaca perlu membedakan estimasi sisa pangan dari data total sampah MBG, yang juga dapat mencakup kemasan dan residu lain.

Data nasional: seberapa besar potensi sisa pangan MBG?

Studi Integrasi Konsep Ekonomi Sirkular untuk Pengelolaan Sisa Pangan pada Program MBG mengulas proyeksi sisa pangan untuk periode 2025–2029, faktor penyebab, dampak lingkungan, kerugian ekonomi, dan pilihan penanganan.

TahunSisa pangan penerima manfaat di sekolahTotal estimasi dari penerima manfaat sekolah dan kelompok lain
2025582.272 ton/tahun586.306 ton/tahun
20261.456.252 ton/tahun1.466.339 ton/tahun
20271.456.252 ton/tahun1.466.339 ton/tahun
20281.456.252 ton/tahun1.466.339 ton/tahun
20291.456.252 ton/tahun1.466.339 ton/tahun
Estimasi berdasarkan Skenario 2 dalam kajian; bukan pengukuran langsung seluruh sekolah. Sumber: LCDI, studi Bappenas–GIZ–Waste4Change.

Jika angka proyeksi sekolah pada 2026 dibagi rata selama 365 hari, hasilnya sekitar 3.990 ton per hari. Angka harian ini hanya perhitungan matematis dari estimasi tahunan; sekolah tidak menghasilkan sisa pangan dalam jumlah yang sama setiap hari. Besaran aktual bergantung pada jumlah penerima, menu, porsi, distribusi, dan kebiasaan makan.

Mengapa sisa MBG perlu mendapat perhatian?

1. Menambah volume sampah organik

Nasi, sayuran, buah, dan bahan makanan lain dapat membusuk ketika petugas membiarkannya menumpuk. Sekolah perlu memilah sampah sejak awal, memakai wadah yang sesuai, dan mengatur pengangkutan rutin.

2. Mengganggu kebersihan lingkungan

Sisa makanan yang terbuka dapat menimbulkan bau dan mengundang lalat atau hewan pengganggu. Wadah tertutup, pembersihan teratur, dan pengangkutan tepat waktu membantu menjaga area makan tetap bersih.

3. Menambah beban petugas dan layanan persampahan

Volume sampah yang meningkat dapat menambah waktu kerja petugas kebersihan serta kebutuhan pengangkutan. Campuran sisa makanan, plastik, dan residu lain juga menyulitkan pemilahan dan pengolahan.

Contoh lapangan: sekolah mulai mengukur dan mengolah sampah

SMPN 19 Bogor

Studi dalam Prosiding Seminar Nasional IPA melaporkan rata-rata 11,25 kilogram sampah organik per hari dari kegiatan MBG di SMPN 19 Bogor. Peneliti membahas potensi pengolahan melalui biopori dan produksi biogas. Angka tersebut menggambarkan lokasi penelitian, bukan rata-rata nasional.

SMAN 18 Bandung

Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran melaporkan pencatatan 232,6 kilogram timbulan sampah di SMAN 18 Bandung selama 6–16 April 2026. Sebanyak 221,1 kilogram atau sekitar 95,1 persen berupa sampah organik. Data tersebut berasal dari periode pemantauan setempat dan tidak mewakili semua sekolah di Indonesia. Baca laporan pendampingan pengelolaan sampah dari FTIP Unpad.

Aturan resmi tentang sisa pangan dan sampah MBG

Peraturan Badan Gizi Nasional Nomor 1 Tahun 2026 mengatur sisa pangan, sampah, dan air limbah domestik Program MBG. Aturan ini berlaku sejak 17 Maret 2026 dan mencakup penanganan sisa pangan, pengelolaan sampah oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemantauan, evaluasi, pelaporan, sarana-prasarana, pembinaan, pengawasan, serta sanksi administratif. BGN juga menjelaskan aturan tersebut melalui siaran resmi tentang kewajiban pengelolaan limbah SPPG.

SPPG, sekolah, pemerintah daerah, dan pengelola sampah perlu menyepakati alur kerja sesuai kewenangan masing-masing. Penanganan sampah padat juga harus berjalan seiring dengan pengelolaan air limbah domestik dan penerapan higiene serta sanitasi.

Langkah praktis untuk mengurangi sisa MBG di sekolah

1. Timbang dan catat sisa makanan

Catat jumlah makanan yang disajikan, jumlah penerima, serta berat sisa nasi, lauk, sayur, dan buah. Pisahkan data sisa makanan dari kemasan dan residu. Catatan harian membantu sekolah menemukan menu yang sering tersisa dan mengukur perubahan dari waktu ke waktu.

2. Evaluasi menu tanpa mengurangi kebutuhan gizi

Jika menu tertentu sering tersisa, sekolah dan penyelenggara dapat meninjau rasa, tekstur, cara memasak, variasi, ketepatan distribusi, dan kesesuaian porsi. Evaluasi harus tetap menjaga kebutuhan gizi peserta didik serta keamanan pangan.

3. Pilah sampah dari sumbernya

Sediakan wadah terpisah untuk sampah organik, bahan yang dapat didaur ulang, dan residu. Pastikan petugas menjaga pemilahan saat mengumpulkan dan mengangkut sampah agar bahan yang masih dapat diolah tidak tercampur kembali.

4. Pilih metode pengolahan yang sesuai

Sisa sayur, buah, dan bahan organik tertentu dapat mendukung pengomposan dengan metode yang tepat. Biopori atau pengolahan anaerobik dapat menjadi pilihan jika kondisi lahan, jenis bahan, fasilitas, dan pendampingan teknis mendukung. Jangan memasukkan semua jenis sisa makanan ke metode yang sama tanpa memperhatikan keamanan, bau, dan hama.

5. Jaga kebersihan dan jadwal pengangkutan

Bersihkan wadah dan area makan secara rutin. Atur pengangkutan agar sampah tidak menumpuk. Makanan yang sudah disajikan dan tersisa di piring tidak boleh dibagikan kembali kepada orang lain; penanganan pangan harus mengutamakan keamanan.

Sisa MBG dapat menjadi bahan pembelajaran lingkungan

Guru dapat menjadikan pencatatan sampah sebagai proyek lintas mata pelajaran. Dalam IPA, siswa mempelajari penguraian bahan organik. Dalam Matematika, mereka menghitung rata-rata dan persentase pengurangan. Dalam Informatika, siswa dapat membuat tabel atau grafik sederhana. Kegiatan ini juga menguatkan kebiasaan menghargai makanan dan menjaga kebersihan.

GURUNUSA juga membahas dampak pelaksanaan MBG terhadap kegiatan sekolah dalam artikel Ketika Waktu Belajar Termakan MBG. Untuk memahami tantangan operasional dan keamanan pangan, baca pula Ketika Listrik Padam, Pelayanan MBG Harus Berhenti?.

Siapa yang bertanggung jawab?

BGN menjalankan pembinaan dan pengawasan sesuai kewenangannya. SPPG menangani sisa pangan dan limbah operasional sesuai aturan. Sekolah menjaga kebersihan, mendidik peserta didik, serta menjalankan pencatatan dan pemilahan sesuai pembagian tugas. Pemerintah daerah mendukung layanan persampahan dan koordinasi. Pembagian tanggung jawab yang jelas membantu mencegah penumpukan sisa makanan tanpa penanganan.

Kesimpulan

Estimasi nasional menunjukkan perlunya perencanaan sisa pangan MBG yang cermat, tetapi proyeksi tidak sama dengan hasil pengukuran aktual di semua sekolah. Contoh Bogor dan Bandung memperlihatkan manfaat pencatatan serta pengolahan sampah berdasarkan kondisi setempat.

Langkah utama mencakup pencegahan pemborosan pangan, penimbangan sisa, pemilahan, pengolahan yang aman, dan koordinasi antara SPPG, sekolah, serta pemerintah daerah. Keberhasilan MBG perlu berjalan seiring dengan kebiasaan menghargai pangan dan menjaga lingkungan sekolah tetap bersih.

FAQ: Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah sisa MBG mencapai 1,45 juta ton per tahun?

Angka 1.456.252 ton per tahun merupakan estimasi sisa pangan penerima manfaat di sekolah dalam Skenario 2 untuk 2026, bukan hasil penimbangan seluruh sekolah.

Apakah sisa pangan sama dengan total sampah MBG?

Tidak. Total sampah dapat mencakup sisa pangan, kemasan, dan residu lain. Setiap kategori perlu dicatat secara terpisah.

Bagaimana sekolah mengurangi sisa makanan?

Sekolah dapat menimbang sisa setiap hari, mengevaluasi menu dan distribusi, memilah sampah, serta memilih metode pengolahan yang sesuai tanpa mengurangi kebutuhan gizi siswa.

Apakah semua sekolah harus menggunakan biogas?

Tidak. Sekolah dapat memilih solusi sesuai jumlah sampah, kondisi lahan, fasilitas, dan kemampuan pengelola. Penimbangan serta pemilahan menjadi langkah awal yang praktis.

Apa aturan khusus untuk sisa pangan MBG?

Peraturan BGN Nomor 1 Tahun 2026 mengatur sisa pangan, sampah, dan air limbah domestik Program MBG. Pembaca dapat memeriksa naskah resminya melalui tautan JDIH BPK di bagian aturan.

Sumber dan referensi

Komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *